Sekilas Tentang Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian

Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (BBP2TP) adalah Unit Pelaksana Teknis (UPT) di bidang pengkajian dan pengembangan teknologi pertanian yang berada di bawah dan bertanggungjawab kepada Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. BBP2TP semula bernama Balai Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (BP2TP) yang berdiri berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian nomor 77/kpts/OT.210/1/2002, tanggal 29 Januari 2002 dan sejak terbitnya Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) nomor 301/kpts/OT.140/7/2005 tanggal 11 Juli 2005, BP2TP berubah menjadi Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian.

Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian (IP2TP) lingkup BBP2TP berjumlah 60 unit yang tersebar di 28 BPTP. Pada tahun 2018 ada tiga IP2TP yang baru, yaitu IP2TP Kampar, IP2TP Siak (BPTP Riau) dan IP2TP Paal 16 (BPTP Jambi). Total luas IP2TP lingkup BBP2TP adalah 2.569,47 Ha, dengan luasan rata-rata 45 Ha. Luasan IP2TP ini bervariasi dari yang terkecil seluas 0,188 Ha (IP2TP Wamena - Papua) dan yang terbesar seluas 307 Ha (IP2TP Makariki-Maluku).

Lokasi IP2TP tersebar pada beberapa agroekosistem. Sebanyak 41 IP2TP berada di lahan kering baik lahan kering di dataran rendah, dataran tinggi maupun berbukit, sedangkan 9 IP2TP berada di lahan sawah, sisanya 7 IP2TP berada di lahan lebak, rawa dan lahan pasang surut.

Berdasarkan fungsinya maka pemanfaatan IP2TP dapat dibedakan menjadi tiga kelompok besar yaitu pemanfaatan untuk kegiatan pengkajian/diseminasi, Unit Pengelola Benih Sumber (UPBS) dan Kerjasama Pemanfaatan IP2TP dengan stakeholder. Hal ini sejalan dengan tugas dan fungsi utama BPTP di daerah sebagai lembaga yang bergerak dalam bidang pengkajian dan diseminasi hasil pengkajian. Tujuh puluh enam persen pemanfaatan IP2TP ditujukan untuk kegiatan pengkajian dan diseminasi meliputi penelitian, ujicoba, pengembangan model penelitian, kebun produksi, koleksi plasma nutfah, koleksi sumberdaya genetik, pembibitan, kebun bibit induk, visitor plot, display teknologi unggulan, dan diseminasi lain seperti program jarwo super dan taman sains teknologi.

Lahan IP2TP sebagai lokasi untuk kegiatan litkaji perlu dipetakan dan ditata dengan baik dalam bentuk zonasi atau blok – blok sesuai dengan peruntukannya. Penataan lahan dalam bentuk blok – blok tersebut harus disesuaikan dengan kondisi dan kontur lahan yang ada. Hal tersebut diperlukan untuk memudahkan bagi para peneliti dan pengkaji dalam menentukan rancangan atau perlakuan terhadap tanaman atau komoditas yang diteliti. Di samping itu penataan lahan bermanfaat untuk menghindari terjadinya tumpang tindih dalam penggunaannya. Lahan yang digunakan untuk litkaji harus terpelihara dengan baik agar terhindar atau bebas dari kemungkinan terkontaminasi, gangguan hama dan penyakit serta faktor – faktor lainnya yang dapat mempengaruhi keberhasilan kegiatan tersebut. Di samping itu lahan untuk kegiatan litkaji perlu dipilih pada area yang mempunyai sistem irigasi memadai. Lahan di IP2TP yang tidak digunakan untuk kegiatan litkaji sebaiknya dimanfaatkan sebagai area penyangga, misalnya untuk tanaman produksi, perbanyakan tanaman pakan ternak atau kegiatan lainnya.

IP2TP selain untuk mendukung kegiatan litkaji, juga berfungsi sebagai lokasi konservasi koleksi plasma nutfah, yang diperbanyak melalui biji atau setek, lokasi konservasi tersebut dapat berfungsi untuk kegiatan rejunevasi dan karakterisasi. Penentuan lahan untuk untuk koleksi plasma nutfah atau sumberdaya genetik hendaknya disesuaikan dengan karakteristik komoditasnya, seperti kebutuhan syarat tumbuh atau sifat - sifat khusus lainnya. Di samping itu dalam penataan kebun koleksi perlu mempertimbangkan kemudahan akses, mobilitas dan pemanfaatannya. Pemanfaatan IP2TP dalam bentuk kerja sama yang sangat potensial dikembangkan ke depan adalah IP2TP sebagai agrowidyawisata. Penataan IP2TP yang memperhatikan keindahan atau estetika dapat berperan sebagai lokasi untuk pengembangan agrowiyawisata, sehingga IP2TP tersebut akan memiliki daya tarik khusus bagi para pemerhati penelitian, pelaku agribisnis, petani, pengguna teknologi dan masyarakat umum. IP2TP lebih lanjut dapat dimanfaatkan dalam pengembangan pariwisata ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) dan pendidikan di bidang penelitian pertanian.

Beberapa BPTP yang memiliki IP2TP dengan agroekosistem lahan sawah, menggunakan IP2TP sebagai unit pengelola benih sumber padi, jagung dan kedelai. Total pemanfaatan lahan IP2TP untuk UPBS mencapai 96,65 hektar. BPTP sentra produksi benih sumber di IP2TP adalah BPTP Sumut, Sumbar, Sumsel, Babel, Lampung, Jateng, Jatim, Kalteng, Kalsel, NTB, NTT, Sulteng, Sultra, Sulsel, dan Papua Barat. Bahkan pemanfaatan IP2TP untuk kegiatan UPBS memberikan hasil PNBP yang cukup signifikan karena produksi benih seluruhnya menjadi milik BPTP yang siap dijual dan didistribusikan kepada petani penangkar dan pengguna lainnya.

SEBARAN INSTALASI PENELITIAN DAN PENGKAJIAN TEKNOLOGI PERTANIAN DI INDONESIA